About We

Foto Saya
palembang, sumatera selatan, Indonesia

Jumat, 02 Oktober 2009

Metode Pembelajaran

Dikutip dari :

http://www.psb-psma.org/content/blog/pendekatan-open-ended-problem-dalam-matematika.

Pendekatan Open -Ended

a. Pengertian Pendekatan Open-Ended
Menurut Suherman dkk (2003; 123) problem yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar disebut problem tak lengkap atau disebut juga Open-Ended problem atau soal terbuka. Siswa yang dihadapkan dengan Open-Ended problem, tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban. Dengan demikian bukanlah hanya satu pendekatan atau metode dalam mendapatkan jawaban, namun beberapa atau banyak.
Sifat “keterbukaan” dari suatu masalah dikatakan hilang apabila hanya ada satu cara dalam menjawab permasalahan yang diberikan atau hanya ada satu jawaban yang mungkin untuk masalah tersebut. Contoh penerapan masalah Open-Ended dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika siswa diminta mengembangkan metode, cara atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan bukan berorientasi pada jawaban (hasil) akhir.
Pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended diawali dengan memberikan masalah terbuka kepada siswa. Kegiatan pembelajaran harus mengarah dan membawa siswa dalam menjawab masalah dengan banyak cara serta mungkin juga dengan banyak jawaban (yang benar), sehingga merangsang kemampuan intelektual dan pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru.
Tujuan dari pembelajaran Open-Ended problem menurut Nohda (Suherman, dkk, 2003; 124) ialah untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir matematik siswa melalui problem posing secara simultan. Dengan kata lain, kegiatan kreatif dan pola pikir matematik siswa harus dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan setiap siswa.
b. Mengkonstruksi Masalah Open-Ended
Menurut Suherman, dkk (2003 : 129-130) mengkonstruksi dan mengembangkan masalah Open-Ended yang tepat dan baik untuk siswa dengan tingkat kemampuan yang beragam tidaklah mudah. Akan tetapi berdasarkan penelitian yang dilakukan di Jepang dalam jangka waktu yang cukup panjang, ditemukan beberapa hal yang dapat dijadikan acuan dalam mengkonstruksi masalah, antara lain sebagai berikut:
 Menyajikan permasalahan melalui situasi fisik yang nyata di mana konsep-konsep matematika dapat diamati dan dikaji siswa.
 Menyajikan soal-soal pembuktian dapat diubah sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan hubungan dan sifat-sifat dari variabel dalam persoalan itu.
 Menyajikan bentuk-bentuk atau bangun-bangun (geometri) sehingga siswa dapat membuat suatu konjektur.
 Menyajikan urutan bilangan atau tabel sehingga siswa dapat menemukan aturan matematika.
 Memberikan beberapa contoh konkrit dalam beberapa kategori sehingga siswa bisa mengelaborasi siifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat-sifat yang umum.
 Memberikan beberapa latihan serupa sehingga siswa dapat menggeneralisasai dari pekerjaannya.
d. Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Open-Ended
Keunggulan Pendekatan Open-Ended
Pendekatan Open-Ended ini menurut Suherman, dkk (2003:132) memiliki beberapa keunggulan antara lain:
a. Siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan idenya.
b. Siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan matematik secara komprehensif.
c. Siswa dengan kemapuan matematika rendah dapat merespon permasalahan dengan cara mereka sendiri.
d. Siswa secara intrinsik termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan.
e. Siswa memiliki pengelaman banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.
Kelemahan Pendekatan Open-Ended
Disamping keunggulan, menurut Suherman, dkk (2003;133) terdapat pula kelemahan dari pendekatan Open-Ended, diantaranya:
a. Membuat dan menyiapkan masalah matematika yang bermakna bagi siswa bukanlah pekerjaan mudah.
b. Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami siswa sangat sulit sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan bagaimana merespon permasalahan yang diberikan.
c. Siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka.
d. Mungkin ada sebagaian siswa yang merasa bahwa kegiatan belajar mereka mereka tidak menyenangkan karena kesulitan yang mereka hadapi.






http://blog.unila.ac.id/abrar/2009/09/04/pendekatan-kontekstual-contextual-teaching-and-learning-2/\

Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
Pemerintah saat ini sedang mensosialisasikan penerapan konsep Kuriku¬lum Berbasis Kompetensi dalam proses pendidikan di semua jenjang pendidikan, mulai Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Menengah Umum yang ada di Indonesia. Salah satu metode yang cocok untuk menerapkan Konsep Pendidikan Kurikulum Berbasis Kompetensi ini, yaitu dengan menggunakan Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). Hakekat dari pendekatan kontekstual ini bahwa secara natural siswa diajak untuk mencari makna konteks sesuai dengan dunia nyata lingkungan seseorang, dalam hal ini dapat terjadi melalui pencarian hubungan antara materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa. Menurut Depdiknas (2003: 5)

"Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinva dengan pe¬nerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: kontruktivisme (Contructivism). bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning community), pemodelan (Modelling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (Autentic Asessment)".


Pembelajaran Kontekstual memiliki karakteristik sebagai berikut:
a) Kontruktivisme
Suatu teori belajar yang mengklaim bahwa individu membangun pe¬ngetahuannya dan pemahamannya dari pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki dan pemahamannya ten¬tang matematika. Kontruktivis adalah kemampuan siswa dalam meng¬konstruksi pengetahuan dan memberi makna melalui pengalaman nya¬ta yang dialami dan dirasakan dalam kehidupan. Siswa harus mampu menemukan dan mentransformasikan pengetahuan yang dimiliki ke konsep yang baru diterimanya. Disini tugas seorang guru adalah mem¬bantu siswa dalam proses belajar mengajar dengan memberi kesempa¬tan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide sendiri atau gagasan sendiri dalam belajar.
b) Inkuiri (menemukan)
Menemukan adalah proses memperoleh ilmu pengetahuan dan kete¬rampilan, yang dapat diperoleh melalui observasi. be: tanya, menga¬jukan dugaan. pengumpulan data-data, dan penyimpulan.
c) Bertanya
Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa. Bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam me¬iaksanakan kegiatan pembelajaran, yaitu menggali informasi,mengkonfirmasi apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
d) Masyarakat Belajar, Masyarakat belajar adalah kerja sama antar sesama siswa baik yang di¬lakukan dengan diskusi diantara kelompok maupun diskusi dalam ke¬lompok.
e) Pemodelan
Pemodelan dilakukan dengan cara menampilkan model dari sesuatu objek untuk mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pela¬jaran yang diberikan oleh guru.
f) Refleksi
Refleksi adalah cara berfikir tentang suatu hal yang telah dipelajari. Tugas guru membantu siswa dalam membuat hubungan antara penge¬tahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru, sam¬pai siswa merasa memperoleh sesuatu yang bare dan berguna dalam hidupnya.
g) Penilaian yang sebenarnya
Penilaian yang sebenarnya adalah dengan melakukan suatu penilaian secara keseluruhan dari kegiatan belajar mengajar siswa. seperti peker¬jaan rumah (PR). ulangan harian, latihan, diskusi, kegiatan dalam pela¬poran, dan lain-lain. Dengan menggunakan pendekatan kontekstual, hasil pembelajaran diha¬rapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung ala¬miah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Dalam pembelajaran dengan mengguna¬kan pendekatan kontekstual, strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari¬pads hasil, siswa perlu mengerti apa makna belajar atau manfaatnya, da¬lam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Siswa sadar bahwa apa yang dipelajari akan berguna bagi hidupnya nanti, dengan begitu siswa memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hi¬dupnya nanti. Siswa mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah inembantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak memberkan strategi dari pads memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar